Showing posts with label In my opinion. Show all posts
Showing posts with label In my opinion. Show all posts

Saturday, August 2, 2014

Kuliner Mudik Lebaran di Solo



Sudah satu tahun lebih, Aku tidak meng-update isi blogku dikarenakan kesibukan yang telah banyak menyita waktu dan tidak adanya ide yang untuk dicurahkan. Tapi kali, masih dalam nuansa Hari Raya Idul Fitri, akan aku ceritakan berbagai makanan yang aku cicipi saat berlebaran di Solo di rumah Eyang Putri. Sebelumnya, aku ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

          Perjalanan mudikku ke Solo dari Jakarta, untuk lebaran tahun ini mencatat rekor terbaru yakni 36 jam perjalanan. Berangkat dari Jakarta jam 3 pagi hari Sabtu, sampai di Solo jam 2 siang hari Minggu. Sampai di Solo, Aku membeli ketupat tahu yang berjualan dekat rumah Eyang Putri. Menurutku rasanya enak dan menyegarkan meski sedikit terlalu manis untukku.


          Hari kedua lebaran, pagi-pagi Aku dan keluarga berniat untuk makan sate kambing didaerah kelurahan Gatak depan Puskesmas Gatak. Nama warungnya adalah "Sate Kambing Bu Bani". Sate kambing ini adalah sate kambing yang wajib Aku makan bila pulang ke Solo. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah Eyang Putri hanya 10 menit naik mobil. Pagi itu aku pesan sate kambing dan tongseng kambing.  Sate kambingnya terkenal empuk dan tidak bau  prengus. Kalau datang sedikit kesiangan pasti sudah antri panjang.



          Siang harinya setelah mendatangi rumah-rumah saudara, Aku ingin makan bakmi jawa. Bakmi jawa tidak jauh beda dengan bakmi rebus lain. Namun menurut Aku ada rasa yang membedakan bila dibandingkan dengan bakmi lain adalah bakmi jawa banyak diberikan sayur-sayur seperti wortel, sawi dan kubis, serta diberikan juga potongan daging ayam. Dan yang paling mencolok adalah bakminya "nyemek", jadi bakminya itu lembek namum bumbu merasuk hingga ke dalam bakmi dan tidak membuat "neg". Aku makan bakmi jawa di daerah pasar Delanggu, "Bakmi Bu Tatik". Aku pesan bakmi jawa dan bakmi goreng. Rasanya cukup enak meski tempatnya agak kecil. Sebenarnya bakmi jawa favoritku ada di kota Solonya, "Bakmi Pak Dul". Tapi baru buka malam hari dan Aku pun tidak ada waktu untuk mencicipinya.




          Hari Ketiga Lebaran, Aku sekeluarga renacananya mau ke Karanganyar untuk datang ke arisan keluarga dari pihak Bapak. Namun paginya Aku ingin sarapan soto terlebih dahulu. Aku pilih makan soto daging "Triwindu". Soto ini sudah ada sejak tahun 1939 dan menurutku ini adalah soto terenak seantero Solo dan salah satu makanan yang wajib Aku makan bilang mudik ke Solo. Soto Triwindu mempunyai daging yang empuk dan kuah soto yang jernih dan menyegarkan. Sehingga cocok untuk sarapan pagi. Soto Triwindu berada dekat daerah Mangkunegaran dan jam 6 pagi sudah buka dan ramai orang ingin makan soto tersebut.

                                    


          Hari keempat lebaran, Aku kembali ke Jakarta. Dari rumah Eyang Putri Kami berangkat selepas Sholat Subuh. Biasanya Aku terbiasa sarapan dijalan. Pagi itu pilihan jatuh pada soto daging kembali. Kali ini Aku makan soto daging di daerah Boyolali, "Soto Seger Mbok Giyem" namanya. Karena tidak hanya menjual soto daging, tapi juga soto ayam. Namun yang menjadi favorit adalah soto daging. Dibandingkan soto Triwindu, soto Seger ini menempati urutan kedua menurutku. Karena rasa kuah soto dan rasa dagingnya jauh lebih enak soto Triwindu. Oleh karena itu harganya  pun lebih murah dibandingkan soto Triwindu.



Demikian berbagai makanan yang telah aku makan selama mudik tahun ini dan aku rekomendasi untuk pembaca blogku mencobanya juga. Aku jamin pembaca blogku akan menjadikan salah satu makanan yang telah  ditampilkan menjadi makanan favoritnya.

Adieeu~

Tuesday, April 30, 2013

Aparat, Mengayomi atau Mengganyangi




Sebuah negara yang berdaulat pasti mempunyai sistem yang bisa mempertahankan dan membela negara dari ancaman luar, sekaligus sebagai pengayom dan pelindung bagi warga sipil. Begitu pun Negara Kesatuan Republik Indonesia juga mempunya seperangkat sistem dan kesatuan yang sama yang dinamakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi. Kedua kesatuan inilah yang menjaga kedaulatan Negara sekaligus memberi rasa aman dan mengayomi warga sipil. Kedua instansi itu pun menjadi salah satu perangkat hukum yang menegakkan keadilan bagi seluruh warga negara Indonesia, agar keamanan dalam negeri menjadi kondusif. Secara garis besar memang TNI dan Polisi mempunyai tugas utama yang cukup berbeda. TNI lebih dititik beratkan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan Negara dari serangan atau intervensi dari luar. Oleh karena itu TNI dibagi menjadi tiga korps, yaitu TNI Angkatan Darat (AD), TNI Angkatan Udara (AU), dan TNI Angkatan Laut (AL). Sedangkan Polisi lebih diutamakan utuk menjaga keamanan dalam negeri dan memberi pelayanan tertentu bagi warga sipil. Namun tak jarang TNI pun ikut serta dalam penciptaan keamanan dalam negeri bersama Polisi, terutama bila keadaan keamanan dalam negeri menjadi chaos.

     Namun situasi yang terjadi saat ini pada kedua institusi itu sangatlah bertentangan dengan apa yang telah digariskan pada mereka. Karena kedua institusi bukannya membuat rasa aman, justru makin membuat warga sipil menjadi ketakukan dengan berbagai tindak tanduk yang dilakukan kedua instansi tersebut. Banyak tindakan represif dilakukan aparat pada warga negara dalam menyelesaikan beberapa masalah, seperti penanganan demonstrasi mahasiswa, penuntutan hak tanah yang sering disengketakan antara penduduk asli dengan pihak TNI, dan lainnya. Memang tindakan represif dilakukan oleh oknum aparat saja, namun terkadang anggota aparat lain terprovokasi ikut melakukan tindakan represif. Bahkan tak segan-segan aparat hingga menodongkan senjata api pada warga sipil.

     Selain tindak represif, aparat seringkali menggunakan “titel aparat”-nya untuk menekan warga atau melakukan hal seenaknya yang lebih menguntungkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, coba lihat dijalan raya bagaimana motor dan mobil plat TNI atau Polisi dengan seenaknya melanggar rambu-rambu lalu lintas, seperti masuk ke jalur busway atau menerobos lampu lalu lintas. Polisi yang melihat hanya terkesan pura-pura tidak melihat. Coba yang melanggar itu warga sipil biasa pasti langsung diberhentikan dan ditilang, bahkan hingga diminta uang dalam jumlah yang besar. Tindakan aparat akan lebih menjadi-jadi bila jauh dari pusat instasinya. Salah satu teman yang pernah berada di Pulau Mentawai bercerita bahwa Polisi yang berada disana merupakan Polisi-Polisi yang dimutasi karena melanggar disiplin, namun mutasi itu justru membuat oknum Polisi itu makin tidak disiplin bahkan cenderung ke tindak kriminal seperti menjadi bandar ganja atau melindungi perjudian yang ada disana. TNI pun demikian, terutama TNI AD yang sering anggotanya ditempatkan didaerah terpencil. Mereka menjadi layaknya yang punya kuasa satu-satunya didaerah tersebut. Sikap tak simpatik sering kali ditunjukkan pada penduduk setempat seakan-akan ingin menunjukkan “Ini loh Aku anggota TNI. Jangan macam-macam denganku”. Tabiat oknum anggota TNI pun tak jauh seperti yang dilakukan polisi, ada yang menjadi bandar minuman keras atau menjadi pelindung untuk kegiatan-kegiatan illegal. Bahkan ada anggota TNI yang menghamili wanita penduduk setempat tapi tidak mau bertanggung jawab dengan berbagai alasan seperti belum mendapat izin dari atasan untuk menikah atau sudah harus pindah ke tempat penugasan lain dan berbagai alasan lain. Sikap aparat yang “sok jagoan” itu tak jarang membuat gesekan juga antara kedua instansi. Kasus terakhir adalah penyerangan dan pembakaran Polsek Ogan Komiring Ulu oleh segerombolan anggota TNI AD yang berujung pangkal akibat perselisihan yang terjadi ketika oknum TNI AD yang ditilang oleh Polisi tidak terima dan terjadi keributan yang mengakibatkan terbunuhnya anggota TNI AD itu.

     Dalam enam bulan terakhir banyak sekali kasus tindak kekerasan ataupun tindakan yang menyalahgunakan wewenang demi keuntungan pribadi yang dilakukan aparat penegak hukum pada warga sipil, antara lain ketika seorang jurnalis ketika sedang bertugas memfoto pesawat TNI AU yang jatuh justru kena hajar oleh oknum TNI AU tanpa sebab. Kasus terbaru adalah ada anggota Polisi dari Polres Ciamis yang menabrak pengendara motor hingga menghilangkan dua nyawa melayang sia-sia. Namun bukannya Polisi tersebut diproses hukum justru dilindungi oleh Kapolresnya dan menyalahkan balik sang pengendara motor yang dianggapnya lalai.

     Sering kali yang melakukan tindak kekerasan atau tindakan sewenan-wenang dan menguntungkan diri sendiri, serta sikap tidak simpatik justru dilakukan oleh aparat Polisi dan TNI yang berpangkat rendah. Kelakuan mereka sudah seperti berpangkat Jenderal berbintang yang dengan berbuat seenaknya dan bila berhadapan dengan warga sipil mempertontonkan sikap tidak simpatik seakan warga sipil tersebut adalah seorang buronan yang sedang dicari-cari. Namun instansi yang saat ini menjadi sorotan adalah Kepolisian. Mulai dari pangkat rendah hingga pangkat berbintang semua terlibat kasus pidana, baik itu menyangkut kekerasan pada warga sipil maupun tindak korupsi. Bila perangkat penegak hukum baik itu Polisi dan TNI bertindak sesuka hatinya akan membuat Negara ini menjadi kacau balau. Mereka  yang seharusnya menjadi pengawal penegakan hukum justru mereka sendirilah para pelanggar hukum dan tidak pernah sekali pun mendapat proses hukum. Justru para aparat seperti kebal hukum dan membuat peraturan hukum dibuat untuk warga sipil saja. Padahal sejatinya hukum dibuat untuk semua warga negara yang berada didalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan untuk golongan tertentu saja.

     Pada kesehariannya warga sipil seolah-olah menaruh hormat pada anggota TNI atau Polisi. Namun rasa hormat itu bukan lah bersumber dari kebanggaan pada prestasi yang telah dihasilkan, tapi hanya rasa takut dan terancam yang menyelimuti warga sipil akibat tindakan para aparat selama ini.  Inikah fungsi sesungguhnya kedua instansi itu dibentuk, hanya memberi rasa takut dan bukan memberi rasa aman. Maka tak dapat disalahkan warga sipil sekarang sudah mulai berani melawan kepada aparat. Sudah ada dua kasus yang mengakibatkan terbunuhnya aparat akibat amuk massa. Mungkin inilah bentuk perlawanan warga sipil yang sudah jengah melihat tindak tanduk aparat yang seenaknya sendiri dan sering kali melanggar hukum.

     Bila ini terus berlanjut maka ide awalnya dibentuk kedua instansi, terutama TNI, untuk menangkal dan berperang bila ada serangan dari luar wilayah Indonesia. Aparat justru akan berperang dengan saudaranya sendiri yang tidak lain warga sipil. Selain itu perlu diingat, uang gaji untuk para aparat tersebut bukanlah dari para pejabat negara. Namun justru uang dari warga sipillah mereka mendapat gaji untuk bisa melindungi melindungi dan menciptakan rasa aman bukan seperti saat ini. Seakan-akan warga sipil mengeluarkan uang untuk membayar aparat untuk memukuli warga sipil yang lain. Agar citra TNI dan Polisi menjadi lebih baik lagi dimata warga sipil harus mulai berubah. Langkah awal yaitu menerapkan penjatuhan hukum yang tegas bagi aparat yang melanggar. Memberhentikan anggota aparat yang terbukti terllibat kasus pidana bukan malah melindunginya. Dan terakhir memperketat perekrutan anggota baru terutama dalam kejiwaan bagi anggota baru. Sehingga tidak mudah terpancing untuk melakukan tindakan represif dan melakukan tindakan criminal lainnya. Terakhir adalah sikap simpaktik harus dibangun didiri setiap aparat naik itu TNI maupun Polisi agar lebih mendekat pada warga sipil dan menghilangkan rasa takut yang selama ini menghinggapi. Dengan TNI dan Polisi yang simpatik, akan tercipta kondisi warga sipil yang patuh, serta membuat Indonesia pun semakin baik.


Wednesday, April 24, 2013

Sebuah Ujian Nasional



Bulan April ini adalah bulan yang sangat penting bagi siswa kelas 3, baik itu siswa tingkat SMP maupun SMA di seluruh Indonesia. Ujian nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah selama tiga hari ini sangatlah berpengaruh terhadap masa depan para siswa. Waktu belajar mereka selama tiga tahun akan diuji dan menjadi patokan untuk menentukan kelulusan mereka. Bila nilai ujian nasional dibawah standar maka dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang satu tahun lagi.

     Ujian nasional menjadi standar utama kelulusan siswa, pertama kali ditetapkan pada tahun 2004. Saat itu, standar nilai minimal adalah 4,5, dan pada tahun 2013 ini standar nilai minimal kelulusan setiap mata pelajaran yang diuji adala 5,5. Jadi bila seorang siswa mendapat nilai kurang dari 5,5 pada salah satu mata siswaan saja, maka sudah bias dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang setahun lagi.

     Sejak penyelenggaraan ujian nasional dimulai pada tahun 2004 hingga sekarang, banyak bermunculan pro dan kontra membahas ujian nasional. Hal ini terjadi karena tidak sedikit siswa yang disekolah mendapat nilai dan ranking yang sangat bagus, namun ketika mengikuti ujian nasional ternyata tidak lulus sehingga diharuskan mengulang satu tahun lagi. Selain itu kesiapan guru-guru dan standar sistem pengajaran yang berbeda disetiap daerah membuat masalah ujian nasional makin kompleks.

     Sebelum tahun 2004 memang ada ujian yang diselenggarakan secara nasional (EBTANAS) bagi para siswa kelas 3 disetiap tingkatan pendidikan, namun nilai yang dihasilkan tidak langsung menjadi patokan lulus atau tidaknya seoranng siswa. Karena nilai ujian itu masih harus ditambah dengan nilai-nilai yang didapat siswa selama duduk di kelas 3 yang kemudian dikenal dengan nilai ijazah. Nilai inilah yang menjadi pedoman menentukan kelulusan. Namun nilai ujian nasional itu hanya berpengaruh bagi siswa untuk melanjutkan ke sekolah yang diminati. Bila siswa ingin melanjutkan ke sekolah yang favorit dan mempunyai peringkat yang tinggi disuatu daerah maka biasanya sekolah itu menstandarkan nilai ujian nasional yang tinggi juga. Selain itu meski ujian dilaksanakan secara nasional pada waktu yang sama tiap daerah di Indonesia, tapi bobot materi soal tiap daerah provinsi tidaklah sama antar satu provinsi dengan provinsi lain. Karena disesuaikan dengan kesiapan guru dan sistem pengajaran tiap daerah yang berbeda Mungkin inilah salah satu alasan pemerintah menyelenggarakan ujian nasional dengan bobot materi yang sama disetiap daerah, ini menyamakan standar mutu pendidikan yang sama disetiap daerah sehingga tidak ada ketimpangan. Namun hal ini tidak dibarengi dengan kompetensi guru yang memadai dan fasilitas penunjang  pendidikan yang layak disetiap daerah. Jadi tetap tidak ada perubahan pada materi pengajaran yang didapat siswa sebagai bekal untuk menghadapi ujian nasional, sehingga angka ketidaklulusan didaerah-daerah masih cukup tinggi, bahkan ada sekolah didaerah yang persentasi ketidaklulusan lebih dari 90%.

     Pada tahun 2013 ini, sistem ujian nasional mengalami perubahan akibat banyaknya desakan mengenai permasalahna yang muncul dari ujian nasional. Saat ini ujian nasional tidak lagi menjadi syarat mutlak kelulusan siswa, namun hanya mendapat porsi 60% dan sisa 40% diambil berdasarkan nilai siswa selama duduk dikelas 3. Jadi syarat kelulusan kembali seperti sebelum ujian nasional ditetapkan pada tahun 2004.

     Pada tanggal 15 -18 April 2013, hari Senin hingga Kamis adalah waktu berlangsungnya ujian nasional bagi siswa SMA kelas 3. Ketika permasalahan mengenai perlu tidaknya ujian nasional sudah sedikit mereda. Pemerintah kembali berbuat ulah dengan membuat carut-marut penyelenggaraan ujian nasional. Masalah yang diciptakan justru paling mendasar, yaitu pengadaan soal ujian nasional. Hingga hari senin pelaksanaan ujian nasional 11 daerah tidak dapat menyelenggarakan ujian nasional tepat waktu. Karena belum mendapat soal ujian nasional. Kemudian Pak Menteri Pendidikan pun meminta maaf dan menyatakan ujian nasional dapat diundur hingga hari kamis hingga soal ujian nasional sampai terdistribusi ke daerahnya masing-masing. Kenyataannya hingga tulisan ini dibuat masih ada daerah yang belum menyelenggarakan ujian nasional, karena soal belum sampai. Keterlambatan distribusi soal ujian nasional dikarenakan perusahaan percetakan yang bertanggung jawab akan pencetakan soal dan lembar jawaban tidak dapat menyelesaikan tepat pada waktunya.  Daerah yang telah mendapat soal ujian nasional pun tidak lepas dari masalah, ternyata soal ujian nasional yang diberikan banyak yang tidak sesuai dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian nasional di setiap kelasnya. Sehingga pihak sekolah harus mem-foto copy soal ujian agar mencukupi. Selain itu, ada permasalahan lain yang muncul yaitu rendahnya kualitas kertas yang digunakan, terutama kertas untuk lembar jawaban sehingga ketika menghapus jawaban seringkali kertas ikut tersobek. Semua permasalahan ini kemudian memunculkan dugaan korupsi dalam tender pengadaan soal ujian nasional.

     Segala permasalahan yang ada kembali memunculkan pendapat untuk penghapusan ujian nasional. Pemerintah pun akan tetap bersikeras bahwa ujian nasional tetap perlu diadakan.

     Hari ini adalah hari kedua dilaksanakannya ujian nasional untuk siswa SMP kelas 3. Meski tetap ada beberapa masalah yang muncul tapi tidaklah sebesar saat pelaksanaan ujian nasional tingkat SMA.

     Sejatinya, ujian nasional tetap perlu diadakan sebagai salah satu sarana pengukur tingkat keberhasilan pengajaran siswa selama 3 tahun. Namun yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan ujian nasional adalah peningkatan kualitas dan kompetensi guru, dan sistem pengajaran serta fasilitasnya terutama didaerah agar sama dengan yang dipusat atau di kota-kota besar. Bila itu semua dipenuhi maka ujian nasional layak diselenggarakan. Selain itu ujian nasional tidak boleh menjadi standar mutlak kelulusan siswa. Kelulusan siswa dilihat juga dari nilai-nilai selama duduk dbangku sekolah dan nilai ujian nasional. Karena hanya guru yang sepatutnya yang bisa menyatakan siswa didiknya lulus atau tidak. Karena gurulah yang berhadapan langsung dengan siswa dan tahu secara menyeluruh kualitas siswa-siswanya bukan beberapa lembar kertas soal yang diisi siswa selama tiga hari.
      

Wednesday, December 12, 2012

12-12-12



Today is wednesday and the date is 12-12-12, what an unique date. Lot of people around the world use this date to any purpose. For example, pregnant women want to delivery their baby at this date, couples choose this date to held wedding ceremony, or opening new bussiness. This unique date only happen once in a millenium. My friend in collage, in this date, also held a wedding ceremony at Baitussallam Mosque.

     Several years ago, there was prediction from maya tribe, that at the date 12-12-12 was end of the world, doomsday. The Hollywood also made a movie based on the maya's prediction, the tittle was 2012. But all the prediction is wrong and not will happen. All human in the earth continue their activity without scared about doomsday.

     The prediction about armageddon has several times done before. In 9-9-1999 was predicted that the world would end with any kind of natural disasters like mountain eruption, earthquake, and tsunami in same time. Again all the predictions are failed to be happen.

     After all, the date 12-12-12 is not special date. It is like other date, month and year. So, I think if someone want to do something special at this date, it is only to show their ego and want to show off to other people. For example, pregnant women, eventhough her pregnancy have enough months but there is no sign to delivery, they are still want to delivery at this date. Until some pregnant women have to do ceasarean operation to accomplish their ego. Human is creature that Alloh create with lot of desire and ego. But human must to control their ego to make live harmony.

    

Wednesday, September 26, 2012

Menghancurkan Islam



Islam sama dengan terorisme. Itulah pemahaman yang berkembang saat ini terutama di dunia barat. Keadaan ini berawal sejak insiden 911 atau runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York  yang mengakibatkan Islam mulai dipandang sebagai agama yang mengajarkan terorisme. Padahal peristiwa runtuhnya WTC merupakan suatu konspirasi internasional untuk memuluskan rencana Amerika menyerang Afghanistan dan menguasai tambang minyak di Irak. Saat ini diketahui bahwa WTC bukan runtuh akibat ditabrak pesawat melainkan penghancuran gedung yang terencana yang dikenal dengan building demolition. Namun pemerintah Amerika tetap tutup mulut mengenai fakta dibalik peristiwa itu. Dampak peristiwa tersebut masih dirasakan hingga saat ini, terutama bagi kaum muslimin.

     Beberapa minggu terakhir ini pun kaum muslimin kembali dibuat marah dengan adanya film yang berjudul "Innocence of Muslims" yang terang-terang menghina Nabi Muhammad Saw. Film ini dibuat oleh Nakoula Basseley Nakoula atau Sam Bacile warga keturunan Mesir beragama koptik. Akibat film ini umat muslim di seluruh dunia bereaksi dan memprotes isi film tersebut. Pemerintah Amerika sempat memanggil Sam Bacile untuk dimintai keterangan. Namun Amerika tidak menahannya dengan alasan apa yang dilakukan merupakan kebebasan berekspresi dan mengungkapkan pendapat. Padahal sudah jelas merupakan pelecehan terhadap agama dan wajib proses secara hukum. Akibat sikap pemerintah Amerika ini, demonstrasi dan protes-protes yang awalnya berjalan damai mulai berubah anarki, bahkan sudah menjatuhkan korban.

     Sejatinya kasus ini merupakan suatu konspirasi untuk menjatuhkan kembali umat muslim dimata dunia. Dan menurutku usaha itu telah berhasil sepenuhnya. Dalang dari konspirasi itu pun bisa ditebak, yaitu zionis israel. Amerika yang sesungguhnya bukanlah negara yang adikuasa, melainkan hanyalah boneka marionette-nya zionis israel,  tidak punya taring dalam menyelesaikan kasus ini dan hanya bersembunyi di "ketiak" kebebasan berekspresi.

     Mengenai reaksi marah umat muslim seluruh dunia terhadap film "Innocence of Muslims", menurutku wajar dan harus. Tapi yang menjadi masalah adalah bagaimana rasa marah itu diungkapkan. Para zionis israel akan tertawa senang bila reaksi marah umat muslim mengarah ke tindakan anarki. Karena itulah tujuan utamanya dan berhasil tercapai tujuan tersebut. Seharusnya umat muslim harus tetap bersikap damai dalam segala bentuk aksi demonstrasi memprotes film tersebut. Karena sesungguhnya Agama Islam itu agama yang cinta damai. Oleh karena itu sebagai umat Islam dalam berbuat dan berperilaku haruslah dalam koridor tersebut. Reaksi protes film "Innocence of Muslims" di Indonesia pun diwarnai tindak anarki. Bahkan sampai merusak fasilitas umum dan berusaha menyegel serta merusak restoran-restoran yang berasal dari Amerika seperti KFC, Pizza Hut dan Mcdonald. Dengan tindakan itu semakin mencap Islam sebagai agama yang erat dengan kekerasan dan terorisme. Padahal Nabi Muhammad Saw. sendiri tidak pernah membalas atau bahkan sampai melakukan tindak kekerasan terhadap orang-orang yang telah menghina dan melecehkan diri beliau. Ada suatu riawayat, ketika Rasulullah berdakwah di Tha'if, beliau justru mendapat hinaan, caci maki, bahkan ada yang sampai mau membunuh beliau. Ketika itu malaikat Jibril datang kepada beliau dan menawarkan bantuan untuk membalas penduduk Tha'if dengan menimpakan gunung ke mereka. Namun apa yang dikatakan Nabi. Beliau justru melarang malaikat Jibril dan mendoakan penduduk Tha'if  semoga kelak anak-cucu mereka ada yang beriman kepada Islam. Apakah umat muslim dewasa ini telah melupakan kearifan Rasulullah Saw. Bukankah seluruh umat muslim harus meneladani segala sikap dan perilaku Nabi Muhammad Saw. Bila mengacu kepada sikap Rasulullah, maka dalam menyingkapi kasus film ini seharusnya diselesaikan dengan jalan damai tidak perlu mempertontonkan kekerasan yang justru memperburuk citra Islam. Reaksi protes yang damai bisa ditempuh dengan jalur diskusi, diplomasi, penyampaian nota keberatan atau bahkan membuat film tandingan yang bisa memberi pemahaman bagaimana Islam itu indah dan menyukai perdamaian. Aksi turun ke jalan seharusnya adalah langkah terakhir yang diambil dalam menyuarakan protes terhadap film anti Islam itu dan dilakukan secara damai. Memang untuk keadaan sekarang bentuk protes melalui jalan damai tidak akan langsung berefek terhadap si pembuat film dan isi filmnya, karena Amerika telah dikebiri oleh zionis israel. Sehingga Amerika hanya bisa beralasan tanpa bisa berbuat apa-apa, karena kasus penghinaan terhadap Agama Islam ini sangat menguntungkan zionis israel.

     Tapi sebagai umat Islam tidak boleh dengan mudah terpancing dengan isu-isu seperti itu, apalagi langsung bereaksi anarki untuk menentangnya. Jalan damai lebih baik dan memiliki dampak yang jauh lebih besar dikemudian harinya. Karena bila anarkisme yang lebih ditonjolkan maka masyarakat dunia akan semakin mendeskriditkan Agama Islam dan  menyamakan Islam dengan terorisme. Dan akibatnya Islam akan semakin terpuruk dan bisa dijadikan kambing hitam oleh zionis israel atas setiap tindakan keji yang dilakukannya, serta bisa melegalkan setiap aksi zionis israel seperti pembantaian di Palestina.

    Oleh karena itu, menurutku, mulai sekarang umat Islam harus mengedepankan reaksi-reaksi damai dalam menyingkapi berbagai isu. Indonesia yang merupakan negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia. Maka segala tindakan dalam menyingkapi segala isu yang berkembang pasti akan selalu dinilai oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu ormas-ormas Islam yang ada di Indonesia juga tidak boleh melakukan tindakan premanisme. Seperti FPI yang sering dipelesetkan menjadi Forum Preman Indonesia ini harus berhenti melakukan tindak anarki yang sangat mencoreng Agama Islam. Karena segala tindakan yang dilakukan tidak mencerminkan sebagai umat Islam sama sekali dan tidak pantas membawa-bawa nama Islam dalam setiap tindakan. Dalam pandanganku, segala tindakan FPI itu seakan kembali ke perilaku para quraisy badui yang hanya mementingkan kelompoknya sendiri dan tidak mau mendengar dan berubah demi kebaikan mereka.

     Dengan lebih menonjolkan reaksi damai dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, persepsi masyarakat dunia mengenai Islam sama dengan terorisme pun akan perlahan sirna. Bahkan Islam mungkin akan kembali ke era keemasannya. Namun bila tetap bersikeras melakukan tindakan anarki, maka yang akan tertawa terakhir penuh kemenangan adalah para kaum zionis israel. Dan umat muslim harus ingat nasihat Rasulullah, bahwa Kehancuran Islam diakibatkan perpecahan umatnya sendiri bukan karena serangan dari musuh Islam. Maka inginkah Islam hancur? atau Ingin Islam kembali mengecap zaman keemasan kembali? Bilang ingin pilihan yang kedua maka, berubahlah!!!


Saturday, September 22, 2012

Orb, Sebuah Fisik atau Mistik

Orb merupakan istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan sebuah bentuk lingkaran transparan yang muncul pada sebuah gambar foto. Istilah orb ini terkenal karena dianggap sebagai suatu bentuk penampakan atau pertanda akan kemunculan makhluk metafisika. Namun orb dalam bidang fotografi dikenal sebagai backscatter, hanyalah berupa anomali optik semata yang terbentuk dari cahaya lampu kilat kamera yang yang terpantul kembali ke lensa kamera akibat menabrak partikel kecil tidak terlihat pada kondisi normal (debu, titik air, atau benda asing didepan lensa). Bahkan banyak percobaan yang dilakukan untuk membuktikan anggapan tersebut dan telah terbukti orb dapat tercipta. Namun ada ketentuan untuk menciptakan sebuah orb. Pertama yaitu menggunakan kamera kompak atau ultra-kompak yang terdapat lampu kilat seperti pada kamera digital. Kedua, menggunakan lampu kilat setiap mengambil foto. Jadi berdasarkan percobaan itu dikarenakan sudut cahaya dari lampu kilat dengan lensa kamera sangat kecil sehingga mengakibatkan cahaya yang menabrak partikel akan dipantulkan kembali ke lensa. Oleh karena itu foto-foto penampakan orb banyak dihasilkan dari kamera digital.

     Terlepas orang percaya dengan teori yang mana, menurutku pribadi orb itu adalah suatu energi sisa dari seseorang yang telah meninggal dunia dan energi itu harus tidak boleh jauh dari bagian tubuh dari orang yang meninggal itu. Maksudnya, penampakan orb akan ikut berpindah tempat jika bagian tubuh orang yang meninggal itu ikut dipindahkan. Namun bila ada bagian yang tertinggal baik itu darah sekali pun makan orb tidak akan berpindah tempat. Tapi teori yang aku kemukakan hanya berdasarkan pengamatan dan opini belaka.

     Mungkin para pembaca akan nganggap bahwa teoriku hanya pepesan kosong belaka, namun itulah yang aku bisa ambil kesimpulan mengenai  fenomena orb. Aku mengenal pertama kali istilah orb ketika masih dibangku kuliah. Dosenku, dr. Djaja S.Atmadja, SpF, PhD, SH, DFM, menceritakan pengalaman beliau ketika mengidentifikasi korban tsunami di Aceh. Ketika itu beliau hanya asal memotret kumpulan jenazah para korban tsunami, tak disangka hasil fotonya terdapat penampakan orb. Ketika itu beliau berfikir hanya efek cahaya saja, sama seperti teori fotografi tentang orb. Tapi ketika terjadi bencana tsunami di Padang, beliau kembali ikut dalam proses identifikasi korban, dalam proses itu beliau dibantu oleh mahasiswa kedokteran dari Universitas Andalas. Jenazah korban tsunami Padang itu awalnya dikumpulkan dalam satu ruangan, lalu beliau mengatakan pada mahasiswa untuk memotret ruangan yang penuh jenazah itu dengan kamera digital. Beliau pun ikut memotretnya. Dan hasilnya adalah semua kamera digital yang memotret ruangan itu menampilkan bentuk orb yang banyak. Kemudian semua jenazah para korban dipindahkan dari ruang tersebut, lalu beliau kembali mengajak mahasiswa untuk kembali memotret ruangan tersebut dan hasilnya adalah semua kamera tidak menampilkan penampakan dari orb. Jadi menurut beliau, orb adalah suatu energi sisa dari para korban tersebut. 

     Mungkin pembaca berpikir ini hanya bualan, tapi untuk diketahui dr.Djaja adalah seorang ahli DNA dan satu-satunya orang Indonesia yang analisis DNAnya diakui oleh Amerika dan Eropa. Jadi bisa dibilang, orang yang sangat ilmiah seperti beliau masih mengakui akan adanya hal-hal yang mungkin sulit dijelaskan secara ilmiah dan logika.

     Sejak cerita beliau mengenai orb, aku memutuskan untuk berburu orb. Namun sejak pertama kali aku menggunakan kamera digital, belum pernah sekali pun hasil gambar yang aku potret terdapat penampakan orb. Kemudian aku mendapatkan tugas untuk PTT di Pulau Morotai selama satu tahun (Mengenai PTT di Pulau Morotai bisa dilihat disini). Pulau Morotai yang berasal dari kata moro, menurut istilah penduduk setempat moro mempunyai arti jin atau makhluk halus. Dengan mengetahui arti nama tersebut aku mulai berpikir mungkin di pulau inilah aku akan merasakan pengalaman bertemu jin atau sebangsanya untuk pertama kalinya dalam hidupku. Memang banyak sekali urban legend yang beredar di masyarakat Pulau Morotai. Tak sampai sebulan aku telah mendengar kalau salah satu bidan PTT yang tinggal di desa transmigrasi yang cukup jauh dan akses jalannya cukup sulit, diganggu dengan penampakan-penampakan yang menyeramkan. Sampai bidan tersebut pulang ke Jawa tanpa pamit terlebih dahulu.

     Mendengar cerita tersebut aku mulai penasaran untuk melihat bagaimana kondisi rumah yang ditinggali dan ingin sekali memotret keadaan rumah itu dengan harap akan muncul penampakan didalam gambar foto. Namun baru sebulan kemudian aku berkesempatan ke desa transmigrasi tersebut sekaligus memberikan pelayanan kesehatan. Setelah selesai urusan pelayanan, aku minta di antar ke rumah tempat tinggal bidan yang melarikan diri itu. Ternyata rumahnya hanya berupa rumah papan yang kayu-kayunya sudah mulai lapuk dan dimakan rayap. Ketika masuk ternyata cukup gelap, karena sumber sinar hanya dari pintu tempatku masuk. Mulailah aku memotret setiap ruangan yang ada. Hasil foto yang aku dapat tidak menunjukkan adanya penampakan apapun. Kemudian terpikir olehku untuk memotret langit-langit rumah itu. Ternyata aku mendapatkan penampakan orb pertamaku. Untuk informasi selama memotret di dalam rumah, aku menggunakan lampu kilat karena pencahayaan dalam rumah itu sangatlah kurang.


     Sekarang satu pertanyaan muncul, apakah dengan menemukan penampakan orb dalam gambar fotoku bisa menjadi bukti bahwa didalam rumah itu memang dihuni oleh makhluk metafisika atau orb yang aku dapatkan hanyalah iluminasi cahaya semata? Terserah pembaca untuk memutuskan. Tapi bagiku, orb yang aku dapat adalah menjadi bukti bahwa didalam rumah itu memang terdapat energi sisa milik seseorang yang meninggal. Tapi apakah energi itu bisa menciptakan sosok makhluk yang menyeramkan. Menurutku, orb yang berisi energi itu dipakai oleh makhluk lain, seperti jin untuk menampakkan diri dan meniru wujud orang yang telah meninggal dunia. Dalam agama Islam pun telah dijelaskan bahwa ada makhluk lain yang tinggal berdampingan dengan manusia meski mempunyai dimensi yang berbeda. Jadi berdasarkan konsep tersebut mungkin saja bidan yang dulu tinggal di rumah itu melihat penampakan makhluk metafisika, namun untuk dalam usaha menampakkan diri itu memerlukan energi yang diambil dari orb yang ada disekitar rumah itu.

     Aku juga mempunyai foto lain yang menampakkan gambaran orb, namun gambar orb yang aku dapat tidaklah sengaja untuk dicari. Dan gambaran orb yang aku dapat berada di aliran sungai yang mungkin saja ini lebih mengarah pada teori fotografi. Tapi hanya pada aliran sungai disitu saja aku menemukan gambaran orb, tidak di aliran sungai yang lain didekatnya.


     Itulah beberapa foto mengenai orb yang aku dapat. Soal apakah orb benar merupakan penampakan makhluk metafisika atau hanyalah iluminasi cahaya hasil pantulan dari lampu kilat yang tertangkap kamera. Itu semua kembali ke pembaca masing-masing untuk percaya dan yakin pada teori yang dipilih. Karena menurutku misteri penampakkan orb belumlah 100% terpecahkan, meski sudah ada percobaan secara ilmiah yang dilakukan. Karena berdasarkan pengalamanku di rumah bidan itu, kenapa hanya pada satu lokasi saja penampakkan orb muncul, dan tidak muncul di ruangan lain di rumah itu.


Adieu~

    

Sunday, April 29, 2012

Kenaikan BBM vs Rakyat yang Egois

Tanggal 1 April yang lalu, awalnya merupakan tanggal untuk digunakan sebagai tanggal dimana harga BBM akan dinaikan oleh pemerintah. Tapi niatan itu tidak terealisasikan, atau lebih tetapnya ditunda untuk melihat kenaikan harga minyak dunia. Bila dalam 6 bulan harga minyak dunia naik hingga 15% dari ICP, maka pemerintah punya hak untuk langsung menaikkan harga BBM. Karena DPR telah mensahkan UU yang mengatur hal tersebut.

Cukup dengan pemerintah yang menunda kenaikan BBM. Tulisanku kali ini ingin membahas reaksi rakyat Indonesia mengenai hal kenaikan BBM. Saat pemerintah mengumumkan rencana untuk menaikan harga BBM pada tanggal 1 April, rakyat Indonesia, terutama mahasiswa, mulai beraksi menentang rencana tersebut. Unjuk rasa mulai digelar di setiap daerah-daerah. Tak jarang banyak unjuk rasa yang berakhir dengan bentrokan dengan pihak polisi. Sangat disesalkan sekali, bila harus berujung anarkis. Mahasiswa yang dianggap kaum intelektual, tapi berperilaku seperti orang barbar. Lebih menonjolkan otot dibandingkan otak yang seharusnya menjadi senjata utama mahasiswa.

Aku sangat heran dengan pola pikir mahasiswa saat ini, mereka lebih suka bersikap reaktif dengan emosi dibandingkan melakukan kajian-kaijian terlebih dahulu terhadap setiap isu berkembang. Hasilnya, setiap mereka turun ke jalan yang sejatinya untuk menyuarakan derita rakyat, tapi malah terlihat seperti segerombolan preman-preman yang minta jatah setoran. Lihat saja bentrokan yang terjadi di Jl. Diponegoro antara mahasiswa YAI-UKI dengan polisi atau penghadangan truk BBM oleh mahasiswa di Makasar. Bila kaum intelektual berkelakuan seperti ini, kapan negara ini bisa menjadi negara maju yang ada hanya menjadi negara sarang preman saja.

Apakah mereka tidak pernah berpikir, bila harga minyak dunia yang naik akan memberikan dampak pada anggaran negara bila pemerintah tidak juga menaikan harga BBM. Jika BBM tidak naik, maka pemerintah harus menaikan anggaran subsidi BBM, dengan kata lain negara juga mungkin harus berhutang untuk mencukupi subsidi tersebut. Padahal pemerintah sedang berusaha untuk tidak menambah jumlah hutang negara. Dampak kenaikan harga BBM memang akan membuat harga kebutuhan lain akan melonjak naik. Mungkin bagi rakyat Indonesia yang berada di Pulau Jawa, Sumatra ataupun Sulawesi yang terbiasa akan barang-barang relatif murah akan merasa berat untuk kenaikan tersebut. Tapi bandingkan dengan rakyat Indonesia yang tinggal di wilayah timur Indonesia, untuk wilayah maluku utara saja harga BBM bisa mencapai sepuluh ribu, tapi apakah mereka protes? Apakah mereka melakukan unjuk rasa? Jawabannya tidak. Bagi mereka harga tidak akan terlalu berpengaruh, selama persedian akan BBM terjamin ada. Harusnya rakyat Indonesia harus berpikiran seperti itu. Jika tidak, akan terlihat sekali apa yang mereka teriakan itu mencerminkan keegoisan mereka karena mereka lebih memikirkan dirinya sendiri saja. Mereka yang terutama tinggal di Pulau Jawa terbiasa dengan harga-harga yang murah dan kenyamanan yang tersedia, mereka akan langsung berteriak bila kenyamanan mereka terganggu. Jelas-jelas sungguh egois. Ku lebih suka bila harga barang-barang naik, bila dibandingkan negara harus berhutang lagi agar mencegah harga barang-barang tidak naik. Justru dengan kenaikan harga, rakyat Indonesia harusnya akan bekerja lebih keras lagi agar bisa memenuhi kebutuhannya. Bukannya malah cuma teriak-teriak tanpa arti, yang justru memperlihatkan bahwa dalam diri hanya ada sifat pemalas dan parasit saja.

Saat ini, ku berpikiran bahwa kemacetan yang terjadi di Jakarta mungkin akan terselesaikan bila BBM sudah tidak disubsidi lagi. Subsidi hanya berlaku bagi angkutan umum saja. Orang akan merasa keberatan dengan harga BBM yang sangat mahal, jadi mereka akan lebih memilih moda transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi. Lihat saja negara-negara di Eropa yang harga BBM-nya sangat mahal. Kendaraan pribadi sangat jarang berlalu-lalang, sehingga kemacetan tidaklah terjadi.

Mungkin pemikiran ku ini bisa dipertimbangkan oleh pemerintah agar Jakarta bisa terbebas dari kemacetan...


Thursday, January 26, 2012

Politik Balas Budi yang "Kebablasan"

Pemilihan Kepala Daerah atau yang biasa disebut Pilkada merupakan implementasi dari sistem demokrasi Pancasila yang dianut oleh Indonesia. Sudah dua periode Pilkada telah terlaksana di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Namun berbagai permasalahan pun banyak yang timbul setiap Pilkada diselenggarakan, mulai masalah pemberian sejumlah uang untuk para pemilih hingga bentrokan antar pendukung ketika berlangsung kampanye atau setelah pengumuman pemenang.Tak jarang korban jiwa sampai berjatuhan.

Pilkada dilangsungkan untuk memilih pemerintah daerah tingkat I dan tingkat II, yaitu memilih gubernur dan walikota/bupati. Tapi untuk di DKI Jakarta, Pilkada dilaksanakan hanya untuk memilih gubernur saja. Pilkada yang seharusnya menjadi hajatan besar demokrasi namun kerap berujung bagi-bagi kekuasaan yang dilakukan oleh sang pemenang, istilahnya politik balas budi.

Saat ini aku sedang mendapat tugas di sebuah kabupaten yang baru saja dimekarkan yang terletak di timur Indonesia. Saat aku datang kabupaten tersebut baru saja selesai menyelenggarakan Pilkada. Tapi ternyata Pilkada di daerah tersebut tidak berjalan lancar, bahkan satu bulan sebelum aku datang telah terjadi kerusuhan hingga sebuah cafe dibakar oleh massa pendukung salah satu calon bupati. Hal ini terjadi karena perbedaan perhitungan jumlah suara antara KPUD setempat dengan kubu salah satu calon bupati. Masalah ini sampai dibawa ke Makamah Konstitusi (MK).

Berdasarkan kuputusan MK akhirnya daerah tersebut melantik bupati yang baru. Namun permasalahannya tidak selesai sampai disitu saja.

Ternyata sang bupati didukung oleh banyak partai yang mengusungnya, sehingga mau tidak mau dia harus berbalas budi atas semua yang dia capai. Lebih gawat lagi, ternyata suhu politik di daerah-daerah terutama yang di luar Pulau Jawa sangat panas dan mudah terjadi gesekan. Orang yang dulu berseberangan kubu politik pasti dibuang dan yang mendukung pasti dihadiahkan jabatan tanpa lihat track record terlebih dahulu.

Di kabupaten ini juga aku baru tahu bahwa setiap kepala dinas bukanlah jabatan karier, melainkan berkaitan erat dengan politik. Ketika bupati baru telah dilantik, tugas pertama dia adalah membuang setiap orang-orang yang ketika masa Pilkada berseberangan. Banyak kepala dinas dan jajarannya yang diganti dan menempatkan orang-orang yang membantunya ketika kampanye di jabatan yang bisa dibilang basah. Orang yang ditempatkan juga belum tentu menguasai job desk yang akan diberikan kepadanya. Bahkan orang yang cuma lulusan SMA pun mendapat jabatan yang tinggi, yang awalnya cuma pegawai rendahan.

Coba bayangkan , sebuah kabupaten yang baru pemekaran, masih awam dalam hal pemerintahan dengan beraninya menempatkan orang yang tidak punya kompeten sama sekali untuk memegang suatu jabatan strategis. Kapan mau maju itu daerah, bila para pemimpinnya hanya memikirkan diri sendiri beserta kroni-kroninya dan kurang pengetahuan dalam memajukan kabupaten tersebut.

Sebenarnya politik balas budi, menurutku sah-sah saja. Asalnya tidak merugikan masyarakat dan menempatkan orang-orang yang membantu ketika Pilkada sesuai dengan kompetensinya.

Politik balas budi mungkin tidak akan terjadi bila setiap calon gubernur atau calon walikota/bupati tidak perlu ada partai yang mengusung. Jadi orang yang ingin menjadi pemimpin langsung ngajukan diri saja. Sudah ada contoh sih walikota yang mendapat jabatannya melalui Pilkada tapi tidak di usung satu partai pun, yaitu Walikota Solo. Dan ternyata terbukti bahwa dia menjalankan jabatannya dengan sangat baik, bahkan lebih down to earth pada warganya.

Oleh karena itu perlu pemimpin yang punya integritas yang tinggi dan tidak terpengaruh oleh siapa pun agar bisa membawa negara ini lebih maju, terkhususnya daerah yang dipimpinnya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Akhinya setelah 6 bulan ga nulis, bisa nulis lagi. Tapi kayaknya tulisan ku kali ini mengalami kemunduran. Ga pernah nulis sih selama di tapal batas. Lebih banyak tidurnya...hehehehe

Wednesday, June 1, 2011

PANCASILA, Masih Berlakukah???

Hari ini, hari Rabu tanggal 1 Juni 2011. Bagi bangsa Indonesia, pada tanggal ini dikenang sebagai Hari Lahirnya PANCASILA. PANCASILA merupakan ideologi Negara Indonesia, sebagai wadah pemersatu bangsa ini yang dikenal karena kemajemukan budaya, agama, dan adat istiadat. PANCASILA juga sebagai dasar acuan bagaimana warga negara Indonesia melakukan hubungan bernegara dan berbangsa antar sesama agar saling menghargai dan menerima perbedaan sebagai sebuah keindahan dan bukan menjadi dinding pemisah. PANCASILA mengajarkan agar setiap warga negara mempunyai kewajiban dan hak yang tidak boleh bertentangan dengan warga negara lain, bahkan tidak boleh bertentangan dengan butir-butir dari kesetiap sila dalam PANCASILA.

Namun dewasa ini nilai-nilai dari PANCASILA benar-benar telah pudar dari hati sanubari setiap warga negara Indonesia. Dulu Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, santun, bertoleransi dan kental dengan budaya gotong royong, tapi saat ini yang tampak adalah sifat individualisme yang tinggi, mudah terpancing emosi akan hal sepele, tidak lagi ada rasa saling menghargai, dan mudah dihasut.
Kepudaran nilai PANCASILA sudah terjadi diberbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Mulai dari kalangan pejabat hingga rakyat jelata. Mulai dari yang tua hingga yang muda. Semua itu terjadi karena nilai ke"AKU"an lebih dominan dari nilai ke"KITA"an.

Padahal sejak kita mulai bersekolah di Sekolah Dasar hingga kuliah di Perguruan Tinggi, pelajaran tentang Pendidikan Kewarganegaraan yang merupakan penjabaran lebih luas dari nilai PANCASILA, selalu diajarkan dan ditanamkan oleh para pejuangan tanpa tanda jasa agar kita bisa menjadi manusia yang mampu menerapkan setiap nilai-nilai yang terkandung PANCASILA dalam kehidupan sehari-hari. Namun kenyataannya, tidak ada setitik pun hasil dari pembelajaran itu tampak dalam interaksi kehidupan. Jadi siapakah yang patut disalahkan, Gurukah??? Muridkah??? Orang tuakah??? Lingkungankah??? atau PANCASILA  sendiri yang harus disalahkan???

Apa karena PANCASILA sudah tidak relevan lagi untuk menjadi dasar kehidupan warga negara Indonesia. Sehingga PANCASILA sudah dianggap tidak berlaku lagi di negara ini karena sudah ketinggalan zaman, tidak bisa lagi sebagai panduan berkehidupan berbangsa. Sehingga warga negara Indonesia ini mulai melupakan ideologi bangsa yang telah dibuat oleh para Bapak Pendiri Bangsa dengan susah payah agar bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan terkemuka di dunia internasional.

Dalam kacamataku, perubahan sifat bangsa ini dimulai dari pergolakan yang terjadi pada tahun 1998. Dimana terjadi pergantian rezim, dari orde baru menjadi orde reformasi. Perubahan tidak hanya pada tingkat birokrasi, tapi disetiap sendi kehidupan. Perubahan yang terjadi memang mengarah kebaikkan, pada awalnya. Tapi, perubahan yang telah terjadi benar-benar kebabablasan. Bahkan, menabrak seluruh norma-norma yang berlaku, sehingga warga negara bangsa ini tidak peduli lagi kalau perubahan yang terjadi telah bertentangan dengan nilai PANCASILA.

Sebagai contoh kasus: hari ini ku mengalami kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Ketika pulang dari Dinkes dengan menggunakan motor, ku terjebak macet. Ketika sedang mengantri macet, tiba-tiba dari sebelah kiri motorku ada yang memotong jalurku. langsung saja ku bunyikan klakson, dan karena jalur yang dipotong orang tersebut benar-benar mepet dengan motorku. Akibatny, tas si istri yang dibonceng oleh seorang bapak tersangkut di motorku. Si istri agak kesakitan karena si bapak tetap melajukan motornya, sedangkan ku hanya diam tak menggerakkan motorku. Namun, si bapak tersebut justru marah-marah tahu istrinya menjerit sakit. Langsung, dia mengatai ku dengan kata-kata kotor dan juga juga akhirnya membalasnya. Tapi yang ku kaget, ternyata si bapak mengajak berkelahi, dia sempat memukul helmku hingga kaca helmku lepas. Dan anehnya si istri justru mengompori si bapak, bahkan menyuruh si bapak berkelahi denganku. Untungku masih bisa berpikir jernih, ya sudah ku tinggal pergi saja kedua orang itu.

Dari kasus diatas, dapat diketahui bagaimana mudahnya bangsa kita ini terpancing emosi pada hal yang sepele. Bahkan emosi yang muncul justru hanya untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya yang telah diperbuat. Dan sifat itu memang sudah menjalar ke setiap individu. Seorang istri yang seharusnya menjadi oase bagi si bapak yang sedang dalam amarah, justru menjadi bensin yang memperbesar api kemarahan. Sifat sabar dan tenggang rasa benar-benar telah mati. Bahkan sikap jujur dan berjiwa ksatria mengakui kesalahan bukan lagi menjadi kepribadian yang harus selalu ada disetiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia.

Seperti isi dari sila kedua PANCASILA "Kemanusiaan yang adil dan beradab". Apakah dengan hilangnya rasa Keadilan akan kebenaran, warga negara Indonesia masih pantas dianggap sebagai manusia yang Beradab???

Namun, untunglah masih ada segelintir warga negara Indonesia yang masih menanamkan nilai PANCASILA dalam jiwanya. Mereka yang menjunjung nilai PANCASILA terus berharap agar bangsa ini dapat benar-benar menjadi bangsa yang besar seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Mereka juga banyak yang telah mengharumkan nama Indonesia dikancah internasional. Tapi, lagi-lagi peran serta pemerintah masih sangatlah minim terhadap orang-orang tersebut. Jadi, jangan salahkan bila negara ini tidak akan bisa lepas dari berbagai krisis multidimensional.

Jadi, bila ingin negara ini bebas dari segala permasalahan yang tak pernah berhenti mendera, baik masalah ekonomi, korupsi, pertikaian antar kelompok, kesenjangan sosial, dan pergolakan sepataratisme. Negara dan seluruh warganya harus benar-benar mau kembali ke nilai-nilai dan filosofi dari PANCASILA. Karena dengan hal itu, maka terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan lagi hanya sebuah slogan belaka. Tapi benar-benar akan terwujud.

Semoga...

Friday, April 23, 2010

Dokter adalah…

Dokter adalah profesi yang banyak berinteraksi dengan berbagai macam karakter manusia. Baik terhadap pasiennya, sesama profesinya, maupun dengan orang-orang non profesinya. Oleh karena itu, selain perlu memiliki bekal ilmu tentang kedokteran yang memadai. Seorang dokter juga harus menguasai cara berkomunikasi yang baik dan efektif terutama kepada pasien. Karena dengan komunikasi yang baik maka hubungan antara dokter dan pasien akan terjalin dengan erat. Sehingga penyampaian mengenai penyakit, tata laksana, dan prognosis pasien dapat diterima dengan baik oleh pasien. Karena cara dokter berkomunikasi akan selalu berbeda antar tiap individu pasien. Hal ini bergantung pada tingkat pendidikan, budaya, dan kondisi pasien saat bertemu dokter. Dengan adanya komunikasi yang baik antara dokter-pasien, maka tidak ada lagi pasien yang menuntut dokternya.

Selain sebagai care provider, dokter juga adalah seorang community leader. Karena dokter juga bagian dari masyarakat, maka dokter perlu berperan serta aktif di lingkungan tempat tinggalnya. Seperti kata”dokter” yang berasal dari bahasa latin yang berarti guru. Dokter harus menjadi seorang agent of change, untuk mengajarkan warga di lingkungan tempat tinggalnya akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pola hidup yang sehat, dan upaya diri untuk mencegah terkenanya suatu penyakit, seperti dengan imunisasi. Sehingga dokter bisa membuat warga di lingkungan tempat tinggalnya termotivasi untuk melakukan upaya pola hidup bersih dan sehat, serta menyadarkan warga di tempat tinggalnya, bahwa melakukan tindakan preventif jauh lebih baik dibanding kuratif.

Jadi sejatinya, seorang dokter tidak hanya bertanggung jawab akan kesehatan seorang pasien, tapi harus pula bertanggung jawab akan kesehatan seluruh warga yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Tanggung jawab yang berat ini dipikul oleh seorang dokter yang juga seorang manusia biasa yang punya keterbatasan. Namun dimata masyarakat, dokter itu harus sempurna bahkan dianggap manusia setengah dewa. Untuk mencapai kesempurnaan itu, maka digaungkan “seven stars doctor” yang tidak mudah untuk dicapai. Tapi ingat, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin untuk menjadi “seven stars doctor”.