Saturday, August 25, 2012

Air Terjun Nakamura


 
Salah satu tempat yang mempunyai potensi sebagai obyek wisata di Pulau Morotai adalah air terjun Nakamura. Dinamakan air terjun Nakamura dikarenakan air terjun tersebut menjadi satu-satunya sumber air yang biasa digunakan oleh Nakamura untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Siapakah Nakamura? Nakamura adalah seorang tentara Jepang saat Perang Dunia II. Dahulu Pulau Morotai mempunyai peran penting dalam Perang Dunia II, terutama saat Amerika melawan Jepang. Pulau Morotai dijadikan base camp oleh kedua negara tersebut.

     Ketika Jepang menyerah pada sekutu setelah terjadinya pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki, tentara Jepang banyak yang kembali ke negara asalnya. Namun pada kenyataannya hanya satu orang yang memilih tetap di Pulau Morotai dan memilih bersembunyi di hutan, dialah Nakamura. Untuk bertahan hidup Nakamura memanfaatkan alam sekitar dan dia juga mendapatkan bantuan oleh seorang penduduk setempat dalam hal kebutuhan pokok, seperti beras, lauk dan lain-lain.

     Sebenarnya alasan utama Nakamura tidak mau kembali ke Jepang saat teman-teman lainnya kembali setelah menyerah kepada sekutu adalah karena Nakamura bukanlah orang Jepang asli. Dia sebenarnya orang Taiwan, sehingga bila dia ikut kembali ke Jepang. Dia takut dihukum mati oleh pemerintah Jepang, maka dia lebih memilih tetap tinggal di Pulau Morotai dan bersembunyi di tengah hutan belantara.
 
     Pada tahun 1974, penduduk yang biasa membantu Nakamura membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari meninggal dunia. Sebelum meninggal, dia menceritakan mengenai keberadaan Nakamura pada anaknya dengan maksud agar sang anak melanjutkan membantu Nakamura seperti dirinya dahulu. Namun sanga anak ternyata bercerita ke orang lain mengenai keberadaan Nakamura dan orang tersebut kemudian bercerita kembali ke seorang prajurit TNI AU. Tanpa membuang waktu lama, para anggota TNI AU bergerak menuju persembunyian Nakamura.Tapi untuk memastikan apakah orang tersebut tentara Jepang saat Perang Dunia II tidak kembali ke negaranya. Maka karena ada salah satu anggota TNI yang bisa menyanyikan lagu kebangsaan Jepang "Kimigayo", maka saat dinyanyikan lagu tersebut Nakamura secara refleks berdiri sikap sempurna seperti seorang tentara yang menghormati lagu kebangsaannya. Tanpa ada perlawanan Nakamura dapat ditangkap dan dilakukan interogasi, lalu kemudian dilakukan ekstradisi ke Taiwan.

     Sebenarnya tempat persembunyian Nakamura masih beberapa kilometer dari air terjun. Tapi sangat disesalkan penulis belum sampai ke tempat Nakamura tinggal tersebut.

     Air terjun Nakamura mempunyai air yang sangat jernih dan menyegarkan. Namun, karena itulah pemerintah daerah setempat menggunakan air terjun Nakamura untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk Pulau Morotai. Jadi di sekitar air terjun terdapat penampungan air dan pipa-pipa besar yang menurut penulis sangat mengganggu dan merusak keindahan air terjun Nakamura itu sendiri. 

    Air terjun Nakamura terdapat didekat sebuah desa transmigrasi. Akses jalan menuju air terjun tersebut belum bagus, karena masih berupa tanah merah. Jadi jalanan tersebut akan sangat becek, berlumpur dan licin  saat musim hujan. Penyediaan fasilitas sarana dan prasarana belum sama sekali ada. Jadi masih perlu dilakukan banyak sekali perbaikan sehingga obyek wisata air terjun Nakamura layak dikunjungi oleh wisatawan.











Wednesday, August 15, 2012

Apendisitis Akut

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vemiformis dan merupakan penyebab abdomen akut paling sering.

EPIDEMIOLOGI
Penduduk di Amerika hampir 7% orang pernah mengalami apendisitis. Serta, hampir 200.000 telah dilakukan operasi apendiktomi tiap tahunnya. Saat ini angka kejadian apendisitis di Amerika 1 : 1000 populasi dan 86 kasus setiap 100.000 orang di seluruh dunia. Namun angka kejadian apendisitis sangat kurang di Afrika dan beberapa tempat di Asia karena pola makan yang berbeda.

ETIOLOGI
Apendisitis terjadi karena obstruksi di lumen apendiks vermiformis. Obstruksi mungkin karena hiperplasi limfoid (60%),  fecalith atau fecal stasis (35%), benda asing (4%), dan tumor (1%).

PATOFISIOLOGI
pada dasarnya patofisiologi yang terjadi adalah karena obstrusksi lumen apendiks yang kemudian diikuti terjadinya infeksi. Obstruksi yang disebabkan karena hiperplasia jaringan limfoid folikel submukosal  lebih sering terjadi pada anak-anak, sehingga dikenal juga sebagai apendisitis kataral. Pada orang dewasa lebih sering disebabkan oleh fecalith atau feses yang stasis.

Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas apendiks terbatas sehingga meningkatkan tekanan di dalam lumen. Dengan peningkatan tekanan pada obstruksi mengakibatkan pertumbuhan bakteri yang cepat. Cairan mukus yang terbanyak berubah menjadi pus (nanah) menyebabkan makin meningkatkan tekanan luminal. Keadaan ini menyebabkan pembesaran apendiks dan nyeri viseral yang lokasinya di regioi epigastrium atau periumbilikal  Terus berlangsungnya peningkatan tekanan tersebut menghambat pada aliran limfe sehingga mengakibatkan edema dan ulserasi mukosa. Fase ini dikenal sebagai apendisitis akut. Peritonium parietal menjadi iritasi dan nyeri terlokalisasi pada kuadran kanan bawah. Keadaan ini merupakan nyeri klasik abdomen yang menjalar pada pasien dengan apendisitis.

Peningkatan tekanan yang terus berlangsung menyebabkan obstruksi pada pembuluh vena, sehingga terjadi edema dan iskemik pada apendiks. Pada fase ini invasi bakteri terjadi pada dinding apendiks yang dikenal sebagai apendisitis akut supuratif. Akhirnya, dengan peningkatan tekanan yang terus berlangsung, sumbatan pada pembuluh vena dan pembuluh arteri juga terganggu akan mengarahkan terjadiny gangren dan perforasi. Jika proses perforasi berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks untuk membentuk dinding yang mengelilingi perforasi yang terjadi hingga menjadi suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Nyeri mungkin mengalami perbaikan, tapi gejala tidaklah hilang seluruhnya. Pasien mungkin masih merasakan nyeri kuadran kanan bawah, penurunan nafsu makan, perubahan pola defekasi (contoh, diare, konstipasi), atau demam subfebril yang intermiten. Jika infiltrat apendikularis gagal terjadi untuk membatasi perforasi, maka peritonitis difus akan terjadi.

Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, serta dinding apendiks lebih tipis. Keadaan itu ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang dewasa perforasi terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.

MANIFESTASI KLINIS
Keluhan biasanya bermula dari nyeri pada daerah periumbilikus atau epigastrium. DAlam 2-12 jam akan beralih ke kuadran kanan bawah. Terdapat juga keluhan anoreksia, mual, muntah, dan malaise. Pada awal apendisitis, pasien biasanya mengalami demam subfebris dan bila demam tinggi terjadi biasanya berhubungan dengan perforasi apendiks.

Pada pemeriksaan fisik, biasanya pasien lebih suka berbaring, karena pergerakkan akan memperberat nyeri yang ada. Batuk juga bisa memicu nyeri lokal pada kuadran kanan bawah. Nyeri saat palpasi juga dapat ditemukan. Nyeri perkusi juga dapat diketahui pada area tersebut. Tanda Rovsing, Psoas dan Obturator menunjukkan hasil positif akan semakin menguatkan diagnosis klinis apendisitis akut.

Namun, hanya 55% dari pasien dengan apendisitis yang menampakkan gejala klasik dan penemuan dari pemeriksaan fisik. Hal ini dikarenakan tanda dan gejala awal sangatlah bergantung pada lokasi apendiks.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Terjadi peningkatan leukosit ringan (10.000-20.000/ml) dengan peningkatan jumlah neutrofil. Peningkatan leukosit yang sangat tinggi biasa ditemukan pada pasien dengan apendiks perforasi atau karena proses lain seperti infeksi virus.

Urinalisis, meskipun tidak diharuskan, namun biasa dilaksanakan untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan pada ginjal atau adanya infeksi saluran kemih. Tapi piuria dapat ditemukan pada pasein dengan apendisitis karena proses peradangan mungkin terjadi juga di ureter kanan.

PENCITRAAN
Penggunaan pemeriksaan radiologi mungkin diperlukan pada kasus apendisitis yang tidak menampakan tanda dan gejala klasik atau dikenal atipikal apendisitis.

USG Abdomen/ Pelvis
USG adalah pemeriksaan non invasif yang ideal untuk melihat rongga abdomen. Pemeriksaan ini tidak mahal dan portable, dan dapat dilakukan dengan cepat dengan sedikit atau tidak perlu persiapan apapun pada pasien. Serta yang sangat penting, USG aman karena tidak ada radiasi sehingga aman dilaksanakan pada anak-anak dan wanita hamil. Namun dalam pemeriksaan menggunakan USG sangat bergantung dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki operator.

Apendisitis dicurigai bila ketika pemeriksaan ditemukan penebalan dinding apendiks (>8-10mm), pelebaran lumen, dan tidak bisanya apendiks ditekan sehingga lumen tertutup. USG juga bisa mendeteksi adanya cairan bebas di dalam intraperitoneal, abses dan infiltrat apendikularis.

Pemeriksaan USG mempunyai sensitivitas sebesar 86% dan spesifisitas 94%. USG juga sangat berguna untuk menyingkirkan kemungkinan lain, seperti pada wanita, pelvic inflammatory disease, ruptur folike de graaf, kista ovarium terpuntir, endometriosis, dan kehamilan ektopik terganggu.

CT-scan dengan Kontras
CT-scan dapat menemukan kelainan pada apendiks secara spesific, seperti edama, ketebalan dinding apendiks, proses peradangan sekitar lemak dan adanya appendicolith. Abses, udara bebas dalam jumlah sedikit di kuadran kanan bawah, dan flegmon yang menandakan terjadinya perforasi apendiks dapat diketahui.

Sensitivitas CT-scan mencapai 87-100% dan spesifisitasnya mencapai 91-97%. Namun di Indonesia pemeriksaan CT-scan untuk apendisitis jarang sekali dilakukan. Kendala utamanya adalah mahalnya biaya pemeriksaannya.

ALVARADO SCORE
Alvarado score adalah sistem penilaian klinis untuk mendiagnosis apendisitis akut. Poin penilaian dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium dengan total nilai 10.
  •  Nyeri perut yang menjalar ke fosa iliaka kanan
  • Anorexia atau adanya benda keton dalam urin
  • Mual atau Muntah
  • Nyeri pada penekanan fosa iliaka kanan
  • Nyeri rebound
  • Demam >37,3°C
  • Leukositosis
  • Neutrofilia
Dua faktor utama, nyeri pada kuadran kanan bawah dan leukositosis diberikan masing-masing nilai 2. Sedangkan enam faktor lain diberikan nilai 1 setiap poin penilaiannya.

Jumlah nilai 5 atau 6 mungkin menderita apendisitis. Jumlah nilai 7-8 mengindikasikan kemungkinan apendisitis, dan jumlah nilai 9-10 indikasi untuk apendisitis akut sangat tinggi.

DIAGNOSIS BANDING
Gastroenteritis akut adalah kelainan yang sering dikacaukan dengan apendisitis. Pada kelainan ini muntah dan diare lebih sering. Demam dan leukosit akan meningkat jelas dan tidak sesuai dengan nyeri perut yang timbul. Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah-pindah. Hiperperistaltik merupakan gejala khas. Gastroenteritis biasanya berlangsung akut, observasi berkala akan dapat menegakkan diagnosis.

Adenitis mesenterikum juga dapat menunjukkan gejala dan tanda yang identik dengan apendisitis. Penyakit ini lebih sering pada anak-anak, biasanya didahului infeksi saluran pernapasan. Lokasi nyeri di perut kanan bawah tidak konstan dan menetap, jarang terjadi  true muscle guarding.

Divertikulitis Meckeli juga menunjukkan gejala yang hampir sama. Lokasi nyeri mungkin lebih ke medial, tetapi ini bukan kriteria diagnosis yang dapat dipercaya. Karena kedua kelainan ini membutuhkan tindakan operasi, maka perbedaan bukanlah hal penting.

Enteritis regional, amubiasis, ileitis akut, perforasi ulkus duodeni, kolik ureter, salphingitis akut, kehamilan ektopik terganggu, dan kista ovarium terpuntir juga sering dikacaukan dengan apendisitis. Pneumonia lobus kanan bawah kadang-kadang juga berhubungan dengan nyeri di kuadran kanan bawah.

PENATALAKSANAAN
Pre-Operatif   
Semua pasien dengan diagnosis apendisitis harus diberikan mempunyai hidrasi yang baik dengan cairan isotonik intravena. Pemberian antibiotik spektrum luas dapat dilakukan secara intravena sebelum dilakukan operasi. Bila pasien masih memerlukan pemeriksaan berseri, maka pemberian antibiotik, analgetik dan antipiretik tidak boleh diberikan. Karena akan menutupi proses penyakit yang mendasarinya.

Intra-Operatif
Insisi yang dilakukan saat operasi biasanya menggunakan teknik McBurney, yaitu melakukan sayatan yang tegak lurus pada garis yang menghubungkan umbilikus dengan spina iliaka anterior superior (SIAS) pada sepertiga lateral (titik McBurney). Keuntungan teknik ini tidak terjadi benjolan dan tidak terjad herniasi, trauma operasi minimun pada alat dalam tubuh dan waktu penyembuhan lebih pendek. Tapi kekurangannya adalah lapangan operasi terbatas dan waktu operasi yang lebih lama.

Post-Operatif
Jika pada kasus apendisitis akut, antibiotik perlu dilanjutkan hingga 24 jam. Jika apendisitis supuratif, intravena antibiotik diberikan hingga 48-72 jam dan dihentikan saat pasien sudah bebas demam selama 24 jam. Pada kedua kasus itu, cairan dapat diberikan saat pasien sudah dalam keadaan stabil pasca anestesi dan diet diberikan secara bertahap

Pada kasus gangren atau perforasi apendisitis, pemberian antibiotik dilanjutkan hingga pasien sudah tidak demam dan fungsi pencernaan sudah kembali normal, serta nilai leukosit sudah normal. Saat fungsi pencernaan sudah kembali normal, cairan dapat mulai diberikan dan diet dapat diberikan secara bertahap.

Follow Up
Pasien harus kontrol kembali setelah 1-2 minggu untuk melihat bagaimana penyembuhan lukanya. Aktivitas dapat kembali normal setelah 2 minggu pasca operasi.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang terjadi tergantung dengan fase terjadinya apendisitis. Komplikasi tertinggi terjadi bila fase apendisitis telah memasuki tahap gangren atau perforasi yang dapat menyebabkan peritonitis atau akut abdomen. Komplikasi yang lain adalah, ileus persisten, obstruksi pada usus kecil dan komplikasi pada sistem pernapasan, penumonia dan atelektasis, Deep venous thrombosis, emboli paru dan infark miokard dapat terjadi pada awal periode post-operatif.

PROGNOSIS
Prognosis pada semua fase apendisitis sangat baik, tingkat mortalitas kurang dari 1%. Hal ini dikarenakan diagnosis awal dan tata laksana yang dilakukan dengan baik

Saturday, August 4, 2012

Sepenggal Cerita di Morotai


Disambut sinar keemasan matahari sore, aku menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Morotai pada tanggal 7 Juni 2011. Pulau Morotai inilah termpatku bertugas sebagai dokter PTT selama satu tahun. Kabupaten Pulau Morotai termasuk dalam wilayah Propinsi Maluku Utara dan baru berusia dua tahun, hasil pemekaran dari kabupaten Halmahera Utara. Meskipun masih seumur jagung, kabupaten Pulau Morotai dipercaya untuk melaksanakan salah satu program unggulan Presiden SBY, yaitu Sail Indonesia di Morotai (SIM) 2012.

Sebagai dokter PTT, aku ingin sekali bisa mengamalkan ilmu yang telah dipelajari selama kuliah dan mendapatkan pengalaman yang berharga, sekaligus sebagai tempat liburan yang dapat melepaskan diri dari kepenatan kota Jakarta. Di Pulau Morotai inilah, untuk pertama kalinya aku merasakan fasilitas listrik yang tidak 24 jam, harga kebutuhan pokok yang dua sampai tiga kali lipat dari harga di Jakarta. Namun makin lama aku mulai terbiasa dengan harga-harga yang tinggi, karena berprinsip bahwa “Ga apa-apa harga mahal, yang penting barang ada”. Dan satu lagi, di Pulau Morotai ini nilai mata uang terendah adalah Rp.1000. Orang-orang disini tidak mengenal pecahan Rp.500, apalagi Rp.100. Meskipun barang-barang dibandrol dengan harga yang mengandung unsur pecahan Rp.500, tapi jangan harap diberi uang kembalian Rp.500. Karena pasti akan dibulatkan keatas. Kualitas air tanah di Pulau Morotai juga tidak bagus, karena bila dimasak akan muncul endapan kapur yang sangat banyak sekali. Jadi untuk minum dan memasak aku biasa beli air galon.

Di pulau yang berbatasan dengan Filipina ini, aku ditugaskan di Puskesmas Daruba. Puskesmas ini dulunya adalah Puskesmas rawat inap tapi setelah ada RSUD Pulau Morotai, maka beralih hanya menjadi Puskesmas rawat jalan. Wilayah kerja Puskesmas Daruba meliputi 21 desa dan 3 desa transmigrasi. Meskipun bertugas di Puskesmas Daruba, namun Aku tinggal tidaklah di Daruba. Karena tidak adanya rumah dinas dokter di Daruba, maka Aku terpaksa tinggal di Puskesmas Pembantu (Pustu) desa Totodoku yang telah ditinggali oleh satu keluarga perawat dan bidan. Karena jarak tempuh Totodoku ke Daruba yang sekitar 10 km, maka Aku disediakan fasilitas motor dinas untuk mempermudah mobilitas.

Jam dinasku di Puskemas Daruba mulai dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang, hari senin sampai hari sabtu, serta rata-rata pasienku 10-15 orang per harinya. Justru pengalaman klinisku banyak bertambah bila kembali ke Totodoku. Karena meski tidak buka praktik pribadi pasti ada saja pasien yang datang berobat atau meminta datang ke rumah pasien diluar jam dinas bahkan hingga larut malam. Penyakit yang aku temui juga beragam, mulai dari yang berhubungan dengan medik hingga berbau klenik. Aku juga rutin turun ke desa-desa yang akses jalannya cukup sulit ke Puskesmas Daruba, terutama desa transmigrasi, untuk memberikan pelayanan pengobatan sekaligus pelaksaan posyandu. Lima besar penyakit yang ada di wilayah kerjaku,yaitu ISPA, tekanan darah tinggi, TBC, gastritis dan kusta. Meski Maluku Utara merupakan daerah endemik malaria, namun kasus malaria di Pulau Morotai jarang terjadi. Meski ada penderita malaria, pasti pasien ada riwayat keluar dari Pulau Morotai, entah itu ke Halmahera, Ternate, atau bahkan ke Ambon. Selain lima besar penyakit itu ada juga penyakit lain yang bisa dibilang cukup sering muncul walau tidak terlalu banyak jumlah kasusnya adalah campak. Padahal program posyandu di Pulau Morotai menurutku cukup berjalan dengan baik. Kasus campak biasanya pertama kali menginfeksi anak diatas umur 4 tahun, bahkan ada yang berumur 14 tahun. Baru setelah itu menginfeksi anak usia dibawah 3 tahun dan bayi. Menurutku, masih adanya kasus campak dikarenakan mungkin program posyandu saat masih bergabung dengan kabupaten Halmahera Utara tidak berjalan dengan baik, sehingga banyak bayi dan anak yang tidak mendapat vaksinasi campak.

Sebenarnya pelayanan kesehatan yang ada saat ini sudah cukup baik, dengan ketersediaan tenaga kesehatan, terutama bidan, di setiap desa, meskipun sarana dan prasarana penunjang kinerja masih sangatlah minim. Namun peran dinas kesehatan dalam memberikan pelayanan dan kesejahteraan bagi para tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pencapaian segala program kesehatan, sangatlah buruk. Berbagai dana yang ada, baik dari pusat maupun daerah banyak yang masuk ke kantung orang dinas kesehatan. Bahkan kepala puskesmas pun ikut memperburuk keadaan para tenaga kesehatan, dengan ikut menyunat segala dana-dana yang masuk ke Puskesmas. Dana seperti BOK, Jamkesmas, Askes, Jamkesda dan Jampersal, segala dana tersebut ada bagian bagi tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat, dan bidan, namun kenyataannya dana tersebut yang sampai ke tangan tidaklah sesuai dengan hak-hak tiap orang. Bahkan ada yang tidak mendapatkan sama sekali. Kasus yang paling memprihatikan adalah terjadinya penahanan gaji bidan, karena tidak lengkap mengumpulkan persyaratan guna mengklaim dana Jampersal. Padahal alasan tidak melengkapi syarat Jampersal adalah karena ada pasien yang melahirkan bukan ditolong oleh tenaga kesehatan, tetapi oleh dukun. Jelas sekali maksudnya adalah untuk mencairkan dana Jampersal dengan menghalalkan berbagai cara. Namun setelah cair, dana tersebut lebih banyak yang masuk ke kantung orang dinas kesehatan. Bidan sendiri hanya mendapatkan kurang dari 50% dari keselurahan dana Jampersal per pasiennya.

Selama menjadi dokter PTT di Pulau Morotai, aku tidak terlalu banyak mendapat masalah yang berarti. Pernah bermasalah dengan gaji PTT, namun karena pegawai yang mengurusi masalah PTT mengerti bagaimana dia harus bekerja. Maka dengan mudah masalah gajiku pun dapat terselesaikan. Selain itu, dana-dana, seperti Jamkesda, Askes, dan Jamkesmas memang ku masih mendapatkan, meski jumlahnya tidak sesuai dengan persentase yang harusnya aku dapat. Namun Itu itu tidaklah terlalu penting, dikarenakan jumlah pegawai di Puskesmas Daruba sekitar 30 orang, belum lagi ditambah dengan pegawai honorer yang jumlahnya lebih dari 10 orang. Jadi harus dibagi rata dengan seluruh pegawai yang ada. Selain itu, dana-dana tersebut yang harusnya menjadi pendapatan Puskesmas, sering kali harus digunakan untuk menutupi segala biaya Puskesmas, karena dana BOK sering terlambat turun dari dinas kesehatan kabupaten. Ketika turun pun harus dipotong lagi oleh dinas kesehatan. Selain permasalahan dana, masalah kepegawaian juga menjadikan masalah yang cukup besar. Bisa diambil contoh di Puskesmas tempatku bertugas. Meski sudah mempunyai jumlah pegawai yang banyak, masih saja ditambah terus pegawai honorer. Semua pegawai honorer yang ada adalah titipan dari orang dinas kesehatan yang masih ada hubungan kekeluargaan. Padahal Puskesmas sendiri sudah tidak butuh lagi tambahan, karena semua pos sudah terisi. Alhasil pegawai honorer yang ditaruh di Puskesmas pun tidak bekerja dengan semestinya, alias hanya makan gaji buta. Budaya nepotisme menurutku masih tumbuh subur, tidak hanya di Pulau Morotai, tapi juga di Maluku Utara atau bahkan di wilayah Indonesia bagian timur.

Diluar carut marutnya keadaan birokrasi yang ada, Pulau Morotai meyediakan tempat dengan panorama alam yang cukup indah untuk dikunjungi. Ada Pulau Dodola yang mempunyai pasir pantai selembut tepung, ada air terjun Nakamura yang merupakan sumber air untuk memenuhi kebutuhan Nakamura sehari-hari. Mungkin akan banyak yang bertanya siapa itu Nakamura. Nakamura adalah seorang tentara Jepang yang ikut berperang ketika Perang Dunia II. Saat Jepang menyerah kepada sekutu, Nakamura tidak mau kembali ke Jepang. Dia lebih memilih melarikan diri ke hutan. Pulau Morotai pada saat Perang Dunia II ikut ambil bagian dengan menjadi base camp tentara sekutu yang dipimpin oleh Jenderal Douglas Mc.Arthur. Saat di Pulau Morotai, sekutu membangun landasan pesawat terbang terbesar di dunia dengan tujuh buah landasan. Namun, saat ini hanya dua buah landasan yang dapat digunakan untuk pendaratan pesawat. Adanya latar belakang sejarah yang kuat, ditunjang dengan keindahan tempat-tempat yang eksotis, tak heran Sail Indonesia tahun 2012 diselenggarakan di pulau tersebut.

First After Come Back

Since I back from Morotai, this is my first time wrote at my blog again. Actually I was wrote story about everything I experinced at Morotai in a year. I do that because I want become one of the writter of the book about doctor PTT's experience. Now the book was in editing fase. I hope this book can make lot of people will be aware about people around them, especially who live at remote areas. I will post the story at this blog too, don't worry.

My dream to be a novel's writter is so far to came true. My wriiting skills is not improve and idea about the story also stuck. I hope any someone can help to make my dream come true...

I will more write a lot again at this blog again., so I hope can improve my skills..


Ganbatteee!!!!!